Rabu, 31 Desember 2014

METODE KOGNITIF



A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOGNITIF
Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses memfungsikan unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Teori belajar kognitif ini memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perlu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik

B.     PENGERTIAN BAHASA
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, secara luas bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang berbunyi “nasi” melambangkan konsep atau makna ‘sesuatu yang biasa dimakan orang sebagai makanan pokok’.

C.    RUANG LINGKUP METODE KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN
1.      Latar Belakang Sejarah
Bagi para psikolog kognitif dan para linguis generatif transformasional, bahasa merupakan perilaku yang rule governed, yaitu bersifat internal. Pengetahuan pembicara  atau penutur mengenai bahasa didasarkan pada seperangkat kaidah terbatas yang dapat menurunkan berbagai kalimat yang tidak terbatas yang dapat dipahami. Akan tetapi, kaidah-kaidah tersebut tidak perlu secara sadar dan mudah diungkapkan dengan kata-kata oleh para pemakai bahasa. Anak-anak belajar bahasa ibu atau bahasa asli mereka dengan cara mengembangkan sistem-sistem bahasa yang bersifat perkiraan yang secara berkesinambungan diperhalus sebaik pengetahuan mereka mengenai kaidah itu mengalami perkembangan. Menurut teori nativis, anak-anak dapat melakukan hal ini karena semua insan dilahirkan dengan sarana pemerolehan bahasa atau language acquisition device (LAD) yang sama, yang memungkinkan serta memberi  kecenderunga bagi kita untuk memperoleh bahasa.
Pada akhir tahun 1960-an, beberapa pendukung PK merasa tersinggung oleh pandangan nativis mengenai pemerolehan bahasa. Mereka merasa bahwa kaidah generatif chomsky dan pandangan nativis terhadap pemerolehan bahasa telah memisahkan bahasa dari makna dan dengan pendekatan seperti itu, gagal atau tidak memperhitungkan fungsi-fungsi bahasa. Pada saat itu, pendekatan kognitif terhadap perkembangan pada bahasa anak-anak diperkenalkan, yang mengemukakan bahwa dalam semua bahasa, belajar semantik itu bergantung pada perkembangan kognitif anak. Maksudnya, urutan perkembangan tersebut lebih banyak ditentukan oleh kerumitan semantik daripada oleh kerumitan struktual. Beberapa dari pengecam chomsky mulai mendemonstrasikan bahwa masalah-masalah makna lebih penting dan lebih terarah bagi pemahaman bagaimana cara kalimat-kalimat diturunkan dari pada masalah-masalah sintaksis. Mereka mempertentangkan perbedaan struktur dalam dan struktur/permukaan, menggantikan semantik generatif bagi sintaksis generatif chomsky(wardhaugh, 1976).

2.      Ciri-ciri Utama Pendekatan Kognitif
Chastain (1976) telah mengemukakan perinsip-perinsip dasar atau ciri-ciri utama pendekatan kognitif, sebagai berikut:
1)      Tujuan pengajaran pendekatan kognitif adalah mengembangkan pada diri para siswa tipe-tipe kemampuan yang sama seperti yang dimiliki oleh petutur asli.
Hal ini dilakukan dengan cara membantu para siswa memperoleh pengawasan minimal terhadap kaidah bahasa sasaran sehingga mereka dapat menurunkan bahasa mereka sendiri untuk menemukan situasi yang belum atau tidak ditemui sebelumnya dalam bentuk atau model yang memadai.
2)      Dalam mengajarkan bahasa, guru harus bergerak dari yang telah diketahui menuju yang belum diketahui; maksudnya, dasar pengetahuan siswa kini (struktur kognitif) harus ditentukan sehingga prasyarat yang perlu bagi pemahaman bahan baru dapat diberikan. Dasar pengetahuan ini tidak hanya mencakup pemahaman siswa terhadap bahasa baru itu, tetapi juga pemahaman mereka mengenai bagaimana cara bahasa asli mereka bekerja dan juga pengetahuan mereka mengenai dunia. Para siswa harus terbiasa dengan kaidah bahasa baku sebelum mereka diminta untuk menerapkannya pada generasi bahasa. Dasar atau kompetensi harus muncul pertama, performansi akam muncul apabila dasar tersebut telah diletakkan.
3)      Bahan pelajaran dan guru harus memperkenalkan para siswa pada situasi-situasi yang akan meningkatkan pemakaian bahasa kreatif. Tujuan pokok adalah agar para siswa yang bersangkutan beranjak dari pemahaman dasar, bagaimana caranya bahasa bekerja menuju penggunaan bahasa dalam komunikasi ide-ide yang aktual.
4)      Karena perilaku bahasa secara konstan bersifat inovatif dan beragam, para siswa harus diajarkan memahami sistem kaidah, disamping dituntut mengingat deretan permukaan dalam model hafalan. Oleh karena itu, tata bahas haruslah dijelaskan dan didiskusikan secara tuntas di dalam kelas pendekatan kognitif.
5)      Belajar atau pembelajaran haruslah selalu bermakna, artinya para siswa hendaknya mengerti apa yang diperintahkan untuk dilakukan, benar-benar memahami serta melakukan dengan baik apa yang diperintahkan. Bahan baru hendaklah selau disusun dengan baik sehingga nudah dihubungkan dengan keberadaan struktur kognitif para siswa. Selama tidak semua siswa belajar dengan cara yang sama, selama itu pula guru harus mempertimbangkan cara mengajar supaya sesuai dengan semua perasaan dan pendirian serta gaya belajar siswa (Omaggio, 1986 : 65-7 ; Tarigan, 1988 : 239-40 )
Jadi dari ciri-ciri utama pendekatan kognitif yang telah dipaparkan diatas, dapat dirangkum kembali ciri-ciri utama pendekatan kognitif, ialah sebagai berikut.
a.       Tujuan utama, mengembangkan kemampuan petutur asli pada diri para siswa.
b.      Pembelajaran bahasa haruslah selalu “bermakna”.
c.       Pengajaran bahasa harus bergerak, dari yang sudah diketahui menuju yang belum diketahui.
d.      Materi dan guru memperkenalkan para siswa pada situasi “pemakaian bakasa aktif”.
e.       Para siswa harus diajar memahami sistem kaidah bahasa, tata bahasa dijelaskan dan didiskusikan dengan tuntas.

3.      Teknik Pengajaran
Sebagai alternatif bagi MAL, PK berkembang dari pertengahan tahun 1960-an sebagai responsi terhadap kritikan yang ditujukan kepada MAL. Memang, secara umum, tujuan pengajaran PK  sama dengan yang diajukan oleh para pakar teori MAL (chastian, 1976 : 146 – 7), tetapi perbedaan pun jelas terlihat dalam tujuan langsungnya. Teori kognitif ini tidak begitu memerhatikan keunggulan keterampilan audiolingual. Sebagai penggantinya, penekanan diletakan pada pengawasan atau kontrol bahasa dalam segala  menifestasinya sebagai suatu sistem yang koheren dan bermakna, sejenis “kompetensi” yang diperoleh secara sadar yang dapat digunakan oleh sang pembelajar dalam situasi-situasi kehidupan nyata.
Dengan kata lain, PK benar-benar menolak, menyembunyikan atau tidak memeberi penekanan pada pengejaran pada pengajaran tata bahasa atau kaidah-kaidah bahasa. PK tidak menghindari penampilan membaca dan menulis dalam kaitannya dengan menyimak dan berbicara.
Seperti juga halnya MAL, PK pun mencari suatu rasional dalam linguistik dan psikologi. Sambil menolak behaviorisme dan linguistik struktual, PK mencari dasar bagi pengajaran B2 dalam tata bahasa transformasional dan psikologi kognitif. PK mencerminkan reorentasi teoretis dalam linguistik dan psikolinguistik yang dipelopori oleh chomsky pada tahun 1960-an. Diller (1987) telah merumuskan empat prinsip dasar kognitivisme yang kontras dengan kalimat prinsip yang diuekmukakan oelh moulton (1963) terhadap MAL.
Pada prinsipnya, teori kognitif atau PK adalah pengajaran bahasa merupakan suatu kritik terhadap MAL mengenai perubahan-perubahan dalam teori linguistik dan psikolinguistik. PK telah menunjukan dengan tepat kelemahan teoritis dan praktis dari teori terdahulu dan telah menarik perhatian pada segi-segi penting bahasa dan pembelajaranbahasa yang jelas tidak diperhatikan dan kurang ditekankannoleh teori audiolingual, seperti kreativitas dan makna. Hal itu juga mempunyai ciri-ciri berkarya yang telah dikemukakan kembali dlama MTTB dan ML. Mengenai masalah implisit eksplisit pembelajaran bahasa, PK cenderung mengakui eksplisit. Akan tetapi, dengan mengabaikan jasa-jasa MAL, para pakar  teori PK telah memperuncing pertentangan dogma-dogma tanpa menyajikan fakta yang menyakinkan untuk berbuat lebih banyak daripada memperbaiki atau membuat keseimbangan dalam aspek-aspek tertentu (stern, 9187 :471)

4.      Keunggulan dan kelemahan
Dari pembahasan sebelumnya, dapat kita rangkumkan bahwa pendekatan kognitif dalam pengajaran bahasa memiliki keunggulan dan kelemahan, sebagai berikut:
Keunggulan pendekatan kognitif, antara lain:
1)   Dapat dilaksanakan dalam kelas besar
2)   Sabar menghadapi serta memperbaiki kesalahan
3)   Penggabungan keterampilan berbahasa dalam meningkatkan upaya belajar
4)   Cocok bagi semua tingkatan siswa.
Kelemahan pendekatan kognitif, antara lain:
1)   Tidak dapat metode tertentu didalamnya
2)   Bukan merupakan metode khusus (steinberg, 1986: 192)
3)   Banyak interpretasi dapat diberikan.

Minggu, 28 Desember 2014

ESSAI PUISI



KETIKA TAUFIK ISMAIL MEMBACA TANDA TANDA
Oleh Rahayu Aliyaniwati

Dalam kehidupan di dunia, manusia hidup dengan perasaan, logika dan imaji. Dengan perasaan manusia dapat merasakan suasana dan keadaan yang dihadapinya, dengan logika manusia dapat berpikir secara luas sehingga dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, dengan imaji manusia dapat mengkhayal, bermimpi dan berkreasi.
Sebagai manusia, dengan perasaannya dapat merasakan apapun yang terjadi di sekeliling kita. Perubahan, yang terasa ketika ada sesuatu yang berbeda membuat gentar disanubari. Peristiwa-peristiwa alam, bencana dan gejolak perubahan fisik dunia menajdikan sebuah ketakutan. Ketakutan menjadikan nya teringat kepada kebesaran-Nya.
Tuhan Sang Pencipta Alam, Allah SWT dengan sejuta kebesarannya mengingatkan manusia akan Maha BesarNya Allah. Manusia yang takut akan Nya, akan terus berdoa memuja Tuhannya dan meminta ampun.
Taufik Ismail, hamba Allah yang merasakan tanda-tanda kebesaran-Nya, mengungkapkan apa yang ia rasa dengan puisinya yang berjudul “Membaca Tanda-tanda”.
Berikut puisi karya Taufik Ismail, yang berjudul “Membaca Tanda-tanda” :

Membaca Tanda-tanda
(Taufik Ismail)
                                                                                    
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya.

Ketika penyair Taufik Ismail menulis puisi “Membaca Tanda-tanda”, bisa dihubungkan dengan keadaan penyair tersebut melalui kata-katanya. Kata-kata yang menunjukkan keadaan penyair bisa ditelaah melalui metode puisi secara intrinsik, yakni berdasarkan diksi, imaji, kata nyata, majas, dan  rima.
Diksi digunakan oleh penyair untuk mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya. Taufik Ismail dalam puisinya “Membaca Tanda-tanda” banyak menyindir manusia sebagai khalifah di bumi yang masih saja merusak alam dengan perburuan hewan, penebangan hutan, dan lain sebagainya yang menyebabkan alam mulai kehilangan keindahannya.  Taufik mengunakan diksi “kehilangan” pada bait keempat untuk menggambarkan hilangnya keindahan alam. Taufik pun banyak menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan alam seperti udara, danau, burung, hutan, gunung dan lain sebagainya untuk menyesuaikan puisinya dengan tema alam.  Selain itu ia memilih kata-kata seperti longsor, banjir, gempa dan sebagainya untuk menggambarkan bencana. Bukan hanya itu pemilihan diksi dalam penggunaan diksi “Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru” pemilihan diksi tersebut tepat untuk perumpamaan asap rokok yang dihirup dapat mengurangi kinerja paru-paru.
Dari pemilihan diksinya, Taufik Ismail dalam puisi ini pada umumnya memakai kata-kata yang lumrah digunakan dan mudah dipahami maknanya. Kesemuanya membuat puisi ini menjadi menarik sehingga pesannya juga lebih cepat diterima oleh pembaca.
Unsur imaji yang terkandung dalam puisi “Membaca Tanda-tanda”  terlihat dalam pemilihan diksi yang dicitrakan. Seperti pada kutipan “Kita saksikan udara abu-abu warnanya, Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya” pada bait ke tiga, pada bait kelima dengan kutipan kata “Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru”, “kita sksikan Gunung membawa abu....” pada bait keenam, dan pada bait ketujuh yaitu dengan kutipan kata “kita telah saksikan seribu tanda-tanda, bisakah kita membaca tanda-tanda”  mencitrakan imaji yang timbul oleh indera penglihatan. Selain imaji yang timbul oleh indera penglihatan, dalam puisi ini juga terdapat unsur imaji yang timbul oleh indera pendengaran dan peraba. Seperti pada bait ketiga dengan kutipan “Burung-burung kecil tak lagi berlicau pagi hari” itu merupakan unsur imaji yang dicitrakan oleh indera pendengaran. Sedangkan unsur imaji yang timbul karena pencitraan yang timbul oleh indera peraba dapat dilihat pada bait kesatu dan kesepuluh pada kutipan “Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita” dan pada kutipan “Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan, akan meluncur lewat sela-sela jari ”
Kata nyata yang digunakan semakin memperjelas makna yang terkandung. Dalam puisi “Membaca Tanda-tanda” Taufik Ismail berusaha mencurahkan perasaannya yang merindukan lingkungan yang alami dan murni.  Ia sangat menyesalkan apa yang terjadi saat ini.  Sudah banyak gejala alam yang memperingatkan manusia untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Taufik Ismail selaku penciptanya mengajak pembaca untuk dapat membaca gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita dan mulai untuk sadar dan berubah untuk menjaga alam.
Selain kata nyata, unsur lain yang tak kurang pentingnya adalah majas. Perumpamaan atau perbandingan dilakukan oleh Taufik Ismail untuk memperkuat makna puisinya. Dalam puisi “Membaca Tanda-tanda”  tidak banyak memakai ragam bahasa kiasan atau majas. Bahasa kiasan yang digunakan hanya dengan majas personifikasi dan hiperbola. Majas personifikasi yang terkandung dalam puisi “Membaca Tanda-tanda” diantaranya seperti pada kutipan “Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru” pada bait kelima, dan pada bait keenam baris kedua dan ketujuh dalam kutipan “Gunung membawa abu, Abu membawa batu, Batu membawa lindu, Lindu membawa longsor, Longsor membawa air, Air membawa banjir ”.  Sedangkan yang mengandung majas hiperbola diantaranya ialah pada kutipan “Banjir air mata”  pada bait keenam baris kedelapan.
Dalam puisi tanpa adanya rima, dapat diibaratkan seperti sayur tanpa garam. Meski unsur rima bukanlah unsur utama dalam metode puisi namun unsur rima tak kalah pentingnya dalam penyedap suatu puisi yang indah. Rima adalah bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Penyair memilih diksi-diksi yang mempunyai persamaan bunyi. Pola rima pada puisi ini tidak teratur.  Misalnya saja pada bait pertama dan kedua bersajak (a-b), bait ketiga (a-a-b), bait keempat (a-b-b-b) dan seterusnya. Pada puisi Membaca Tanda-tanda, hanya terdapat rima luar, yaitu rima yang terdapat antarbaris yang terletak di awal, tengah dan akhir.
Rima yang terletak di awal, diantaranya pada bait kedelapan baris kedua sampai kelima:
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu 

Rima yang terletak di tengah, diantaranya pada bait keempat:
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan

Rima yang terletak di akhir, diantaranya terdapat pada bait keempat baris kedua sampai keempat:
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan 


Dengan menguraikan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail dengan metode puisi secara intrinsik menjadikan makna dalam puisi itu lebih mudah untuk diapresiasi. Puisi “Membaca Tanda-tanda”  dapat menjadikan cerminan manusia untuk lebih menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Agung dan diharapkan dengan kita tahu ketika Taufik Ismail
“Membaca Tanda-tanda” kebesaran Tuhan, kitapun akan tahu sudah seberapa jauh kita menyadarinya. Mari kita renungkan apa yang harus kita renungkan sebagai hamba.