Sabtu, 20 Desember 2014

Analisis Cerpen



Hasil Analisis Cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” Karya Zelfeni Wimra
Oleh Rahayu Aliyaniwati

Yarman, tokoh utama dalam cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” karya Zelfeni Wimra. Tokoh laki-laki yang hampir berusia empat puluh tahun yang masih bujangan ini gemar mendengarkan radio, apalagi dengan penyiar yang bersuara serak dengan acara Kotak Pos ya itulah Ratna. Penyiar yang ia gemari selama ini.
Yarman sangat menggemari sosok Ratna, bahkan ia merasa Ratna adalah sosok teman, sahabat bahkan kekasih yang selalu menemani kesendiriannya dengan suara serak Ratna. Yarman yang selalu mengirimkan surat ke Kotak Pos program siaran radio Ratna, hingga disuatu saat program itu ditiadakan.
Yarman awalnya berniat untuk pergi ke Padang untuk menemui Ratna, namun dengan program siaran radio Ratna ditiadakan, Yarman pun seperti berkhayal hal yang konyol. Namun dengan tekadnya, Yarman pun pergi ke Padang entah untuk bekerja ataupun menemui Ratna. Yarman serahkan itu semua pada takdir yang membawanya.
Dari cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” dapat dianalisis dari segi eksistensi maupun psikologisnya. Dari segi eksistensinya dapat dilihat dari Kekaguman, keputusasaan, ketegangan, kekecewaan dan keberadaan. Sedangkan dari segi psikologisnya dapat dilihat dari harapan-harapan, keputusasaan, kesabaran dan kekecewaan.

1.      Kekaguman
Kekaguman yang dimiliki tokoh utama dalam mengagumi Ratna jelas dapat dilihat dari sikap Yarman yang slalu memuja-muja Ratna sehingga ia berkeinginan untuk menemui Ratna. Kekagumannya dapat dilihat dari beberapa kutipan teks dari cerpen tersebut, yaitu sebagai berikut:
1)      Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Dari kutipan tersebut, pada kata-kata yang digaris bawahi dapat dianalisis bahwa Yarman begitu menggemari sosok Ratna dalam program siaran radionya itu. Sehingga Yarman tidak ingin sedikitpun melewatkan harinya tanpa mendengar suara serak Ratna.
2)      Tubuhnya terasa begitu ringan mendengar cuap-cuap penyiar acara Kotak Pos membacakan kartu dari sejumlah pendengar setia penjuru Nusantara.

Dari kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa Yarman sangat mengagumi Ratna, sehingga dia merasa nyaman ketika mendengar suara serak Ratna.
3)      Sebelum sebuah lagu selesai, Yarman akan menghayati aneka bayangan yang melintas di alam hayalnya.
Dari kekagumannya itu Yarman, seringkali menghayal.

2.      Keputusasaan
Keputusasaan Yarman hadir ketika dia mengetahui program siaran Ratna sudah tidak ada lagi dan ketika ia mengetahui surat-surat yang ia kirimkan terbuang di gudang barang-barang bekas, dapat dilihat dari kutipan berikut:
1)      Yarman merasakan dirinya sangat bodoh
2)      Keinginan bertemu Ratna sengaja ia tekan. Ia tahan. Dan, jika dapat, akan ia lupakan
3)      Barangkali, bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya.
4)      Yarman berpikir, jika selamanya begini, hal yang mesti ia persiapkan adalah mendamaikan gejolak keinginannya berangkat ke Padang.
5)      Dan pada kartu pos yang terakhir, ia tulisi tentang tekadnya untuk ke Padang. Jika pun bukan untuk menemui Ratna, ia akan mencoba bekerja.


3.      Ketegangan
Ketegangan jiwa yang terjadi dalam cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” dapat dilihat ketika Yarman mengetahui program siaran Ratna sudah tidak diadakan lagi. Dapat dilihat dari kutipan berikut ini:
1)      Sudah tiga minggu acara Kotak Pos yang ditunggu-tunggunya tidak disiarkan. Ini minggu keempat. Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang.
2)      Yarman menggigil ketika pemberitahuan tentang peniadaan acara Kotak Pos diumumkan.
3)      Jantungnya mendingin. Ngilu. Jemarinya menangkap selembar kartu pos. Ia dekatkan ke arah lampu. Antara percaya dan tidak percaya, ia ambil dan periksa lembar-lembar yang lain. Tidak salah lagi, kartu-kartu pos itu adalah kartu-kartu yang dulu pernah dikirimnya untuk acara Kotak Pos yang diasuh Ratna.
4)      Napasnya memburu. Tak sabar menunggu siang tiba. Sebab, ada sakit di jantungnya. Bila matahari sudah terbit esok hari, ia akan pamit pada Syaiful. Ia akan pulang, kembali ke Kototinggi membawa kartu-kartu pos itu.

4.      Kekecewaan
Kekecewaan yang ditampilkan tokoh utama dalam cerpen ini dapat dilihat dari kutipan berikut:
1)      Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang. Tidak ada lagi suara serak Ratna. Cerita dan kiriman salam dari sahabat-sahabatnya yang jauh seakan raib dimakan angin yang berkisar di Bukitbarisan.
2)      Jika acara Kotak Pos tidak ada lagi, pertemuan dengan Ratna tidak akan lebih dari kesiur mimpi yang konyol?
3)      Yarman merasakan ada yang terputus antara dia dan Ratna. Ratna tidak lagi menyebut namanya. Ratna kini telah sombong.
4)      Sisa kartu pos yang sudah dibelinya ia tulisi dengan kalimat-kalimat aneh.
5)      Yarman menekuri dirinya. Ia rasakan betapa waktu memang tajam. Sejak acara Kotak Pos ditiadakan, ia telah kehilangan tempat berhibur.
5.      Kesabaran
Kesabaran yang tercermin dari tokoh utama adalah ketika Yarman sudah mengetahui surat yang ia kirim selama ini dibuang kemudian ia tak berhenti berusaha untuk mengirimnya lagi. Dapat dilihat dari kutipan berikut:
1)      Barangkali, bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya.
6.      Harapan-harapan
Harapan-harapan yang dimiliki tokoh utama dapat dilihat dari awal ia mengagumi Ratna, ia menggantungkan harapannya agar ia dapat bertemu dengan Ratna. Dapat dilihat dari kutipan berikut ini:
1)      Yarman membayangkan, ia bertemu Ratna di sebuah halte saat hujan deras turun. Ia berharap Ratna tak membawa payung, sehingga mereka punya banyak waktu untuk bercakap-cakap. Dan hujan akan ia seru untuk tidak berhenti. Saat itulah, kepada Ratna akan diceritakannya perihal hujan yang sudah bertahun menyiksa hatinya.
Dari kutipan tersebut dapat ditapsirkan bahwa Yarman sangat berharap dapat bertemu dan kenal lebih dekat dengan Ratna.
2)      Ia telah memesan batu giok yang diikat dengan sebuah cincin bermotif rencong wajik. Bila sudah waktunya dan cincin itu sudah selesai, akan dibawanya ke Padang.
Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa kekagumannya terhadap Ratna, membuatnya melakukan apa saja demi Ratna. Hal tersebut menyiratkan harapan Yarman yang ingin dikenal oleh idolanya itu.
7.      Keberadaan
Eksistensi Yarman dalam cerpen sudah terlihat dari awal cerpen ini diceritakan. Yarman yang seorang bujangan yang ingin mendapatkan pasangan raib begitu saja setelah bertahun-tahun ia menyurati idolanya. Eksistensi Yarman begitu jelas ditampakan dalam cerpen ini lihat pada kutipan berikut:
“Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.”
Dari kutipan tersebut eksistensi Yarman dicerminkan dalam situasi malam di pondok yang tidak ada orang selain dia, kecuali sekawanan binatang yang tinggal di hutan dekat pondoknya.
Cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” karya Zelfeni Wimra mencerminkan laki-laki berusia hampir empat puluh yang belum beristri dan mengagumkan sosok penyiar radio yang bernama Ratna. Dari cerpen ini tersirat banyak unsur ekstrinsik dari konflik batin yang terjadi samapai eksistensi tokoh utama dalam cerpen tersebut. Dari cerpen ini juga dapat tersirat pesan yang dalam, bahwa mengagumi seseorang sah-sah saja namun baiknya kita berlaku wajar agar tidak ada kekecewaan jika harapan-harapan tidak tersampaikan. 

Cerpen ke-2


Senandung Hujan


“Menikahlah dengan Fini le’,” pinta bunda untuk kesekian kalinya.
“Insya Allah, dia perempuan yang shalehah, dan bisa menjadi istri yang baik kelak untuk kamu!”
Ini sudah permintaan kesekian ibu untuk menikah dengan gadis pilihannya. Aku hanya menunduk dan tak berani menatap mata ibu. Tak sanggup aku melihat wajah teduh ibu yang pasti rautnya bakal berubah setelah aku selalu menolak permintaannya. Baru kali ini aku berat untuk mengiyakan permintaan beliau.
 “Tapi aku sudah punya calon istri sendiri bu, aku…” tak sanggup aku melanjutkannya. Ibu memelukku.
“Iya, ibu paham, tapi ibu mohon satu kali ini saja, sebelum ibu menyusul ayahmu. Ibu ingin melihat kamu menikah dengan perempuan yang hati ibu inginkan,” suara ibu mulai parau.
Kurasakan ada air yang menetes ke atas pundakku. Malam itu badanku hanya dibalut kaos singlet putih.
“Ibu sudah melihat Fini. Menyelidikinya, dan menurut penilaian ibu, dia bisa menjagamu, menjaga anak-anakmu dan juga menjaga ibu. Ia perempuan yang baik le’. Lembut perangainya, halus budi pekertinya, dan insya Allah dia sederhana lagi bersahaja,” masih dalam pelukan, suara ibu mulai melemah di telingaku.
“Tapi bagaimana dengan Via, bu?”
“Ibu tahu kamu sudah memilih Via. Tapi dia itu belum pasti,” kali ini ibu mencoba mempengaruhiku.
“Kamu tak perlu takut. Insya Allah Fini adalah perempuan dengan wajah cantik. Ibu menjamin itu,” tegasnya.
“Beri aku waktu setidaknya satu minggu bu. Aku ingin istikharah.”
Aku tidak mampu lagi menjawab.
Ah, ibu, seandainya engkau tahu betapa dalam perasaanku kepada Via. Meski aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan tangan. Via, sahabat penaku, perempuan yang aku kenal dari sebuah forum penulis di salah satu majalah remaja dulu. Meski aku belum pernah bertemu langsung, penilaianku langsung merujuk ke angka delapan. Aku bisa menggambarkan dirinya hanya dari tulisan-tulisannya. Ia perempuan yang memiliki kelembutan. Wangi suratnya mengisyaratkan wangi rambutnya. Halus sulaman kata-kata yang digunakannya mewakili perangainya. Dan doa yang selalu dikirimkannya menggambarkan keshalehannya.
Harus bagaimana aku nanti bila surat Via datang menjengukku. Terakhir kali aku berkirim kabar bahwa ibu ingin menjodohkanku dengan perempuan pilihannya. Itu satu bulan lalu. Kulanggar perjanjian kami, untuk tidak memberikan nomor HP, alamat jejaring sosial, ataupun foto. Di surat terakhir itu kecuali nama dan alamat, kuselipkan secarik foto untuk kali pertama. Dibelakang foto kutuliskan nomor HPku. Aku ingin tahu reaksinya.
Namun setelahnya, surat-surat Via alfa menyambangi rumahku. Ia tidak rajin lagi menitipkan rindu seperti dalam goresan penanya. Entah ia marah atau ingin menjaga hati. Barangkali juga menjaga jarak.
***
Satu pekan berlalu. Tidak ada jawaban dari Via. Tidak ada surat. Apalagi telepon dan pesan pendek yang mampir ke HP lawasku. Aku pun memutuskan mengiyakan permintaan ibu. Meski pun surat Via datang, sebenarnya sangat berat aku menolak permintaan ibu. Setelah Ayah menghadap Ilahi ketika aku berusia 10 tahun, hanya aku yang menjadi kebanggaan ibu. Anak semata wayangnya. Aku tidak sanggup melihat wajah kecewa ibu saat keluar kalimat penolakan dari mulutku. Aku tidak sanggup menjadi durhaka. Maafkan aku ya Rabb. Aku akan “samina wa atoqna”. Semoga Engkau meridhai jalan yang aku pilih. Bukankah ridha Allah itu ridha orangtua?
Ibu gembira. Kesibukan pun langsung melanda rumah mungil peninggalan almarhum Ayah. Rumah sibuk berhias. Ibu dibantu keluarga dan tetangga repot mempersiapkan seserahan. Tak menunggu waktu, ibu menyeretku ke toko emas di pasar dekat rumah.
“Keluarkan uangmu, kita beli mahar perhiasan emas untuk calon istrimu. Ibu yang memilihkan,” ujarnya penuh semangat.
Gembira jiwa ini melihat ibu sumringah. Tapi hati ini masih diayun-ayun bimbang.
Pertemuan kedua keluarga pun terjadi. Ibu Fini adalah teman ibu sewaktu mengikuti penataran sebagai guru beberapa tahun silam. Karenanya mereka sangat akrab, kendati usia ibuku 10 tahun lebih tua.
Aku terdampar di rumah Fini di Selatan Jakarta. Kulirik sedikit wajahnya yang berhias sedikit polesan. Bibirnya tersapu gincu tipis. Cantik juga. Wajahnya putih bersih, matanya berbinar, pipi tambun berlesung bersanding dengan hidung mungilnya. Kacamata cemantel di depan matanya. Balutan jilbab merah menyempurnakan penampilannya. Tapi hati ini masih bimbang.
Satu pekan setelah acara khitbah, Akad Nikah dilaksanakan, walimah pun digelar. Aku tidak banyak mengundang teman-teman kantorku. Tapi tamu yang hadir cukup banyak datang silih berganti. Kudengar orang tua Fini mengundang seribu relasinya. Di antara ribuan orang tersebut, aku mencari sosok Via. Berharap dia datang. Ahh.. aku hanya berkhayal, bagaimana ia tahu aku menikah hari ini, bila aku tak pernah lagi berkirim surat dengannya.
Malam pun tiba. Setelah lelah seharian menjadi raja yang dipajang di atas pelaminan. Usai membasuh riasan dan mengganti pakaian, aku masuk kamar pengantin yang serba putih. Seprai, bantal, guling dan dinding yang dihiasi kain putih. Aku duduk mematung di pinggir tempat tidur.
Sementara Fini, istriku, baru keluar dari kamar mandi. Ia memakai gaun putih panjang pemberianku yang ada dalam seserahan. Fini jauh lebih cantik bila rambutnya tergerai. Wajah dan tubuhnya begitu menggoda. Tapi tidak hatiku.
Ia mendekatiku. Tersenyum namun wajahku datar. Tipis kulempar senyum agar canggung mencair.
Fini semakin mendekatiku. Duduk merapat di samping kananku. “Mas akhirnya kamu jadi halal untukku,” suaranya merdu.
Baru kali ini aku mendengar secara utuh, setelah seharian aku hanya membisu di pelaminan ketika ia mengajak bicara. Berkhayal Via yang ada di kamar itu. Berdua dengannya.
Kepalanya direbahkan ke pundakku. Sedikit kaget, tapi kubiarkan. “Maaf, aku masih kaku,” kataku untuk menyembunyikan keraguan.
“Aku tahu,” ujarnya melemahkan dan mengangkat kepalanya.
Dahiku berkerut. “Kamu tahu apa?”
“Apa kamu mencintai perempuan lain?” pertanyaannya menampar hatiku.
Lidahku mematung di dalam mulut. Ia mengetahui bila ada perempuan yang lebih dulu menyambar hatiku. Jelas saja, sikap dinginku adalah refleksi dari pertanyaannya. Aku diam.
“Diammu itu adalah jawaban mas.”
Ya Allah, maafkan aku bila pikiran ini sudah masuk ke dalam ranah selingkuh. Padahal di hadapanku ada bidadari teramat cantik.
“Mas, kamu pasti sedang memikirkan Via?” wajahku bingung.
Kuputar posisi duduk ke hadapannya.
“Dari mana kamu tahu tentang Via?” masih dalam heran.
Dia beranjak dan mengambil sebuah kotak kayu kira-kira berukuran 150x250mm dari dalam lemari pakaian. Kulihat di dalamnya ada puluhan, bahkan ratusan surat terdokumentasi rapi di dalam kotak warna coklat. Ia mengambil selembar foto dan selembar surat yang letaknya paling atas.
Surat itu, aku mengenalnya. Dan itu fotoku yang kuselipkan di surat terakhir yang kukirim ke Via. Ia tersenyum ketika kurebut surat itu.
“Aku Via mas. Nama Via adalah nama panggilan aku di rumah. Fini adalah nama singkatan dari namaku, Fitria Handayani. Aku meminta ibu memberitahukan nama itu. Maaf bila aku menyembunyikan nama asliku.”
“Awalnya aku juga menolak dijodohkan, tapi ketika ibu memperlihatkan foto kamu, hatiku riang. Aku menggali informasi dari ibu untuk memastikan bahwa kamu dan foto yang ibu bawa adalah orang yang sama. Aku sudah tahu bahwa kamu adalah lelaki yang dijodohkan ibu dan mamah. Karena itu aku tidak menjawab surat terakhir kamu. Aku ingin membuat kejutan kepada penjaga hati dan tubuhku,” ujarnya sembari mengulum senyum.
Kedua mataku basah. Berair. Ini adalah air mata dari mata air surga. Ya Allah, engkau menyiapkan kado terindah yang tidak pernah aku duga. Ternyata Via dan Fini berasal dari satu jiwa. Ia wanita yang kucintai. Ibu ternyata mengerti keinginan anaknya.
Hujan pun bersenandung riang malam itu, mengiringi malam pengantin kami.
***
Diselesaikan di Riau, 19 September 2010; 17:30 WIB ,Rabbi Zidni ‘ilman
Analisis :
Kutipan teks yang menyiratkan problem tokoh utama:
1.      Gejolak jiwanya membuat tokoh utama rapuh, kepasrahan membuat dia tegar mengikuti apa yang ibunya pinta. Dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Aku hanya menunduk dan tak berani menatap mata ibu. Tak sanggup aku melihat wajah teduh ibu yang pasti rautnya bakal berubah setelah aku selalu menolak permintaannya. Baru kali ini aku berat untuk mengiyakan permintaan beliau.
b)      “Tapi aku sudah punya calon istri sendiri bu, aku…” tak sanggup aku melanjutkannya.
c)      “Beri aku waktu setidaknya satu minggu bu. Aku ingin istikharah.”
d)     Aku pun memutuskan mengiyakan permintaan ibu. Meski pun surat Via datang, sebenarnya sangat berat aku menolak permintaan ibu.
2.      Kepasrahan jiwa tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Aku tidak mampu lagi menjawab.
b)      Aku akan “samina wa atoqna”. Semoga Engkau meridhai jalan yang aku pilih. Bukankah ridha Allah itu ridha orangtua?
c)      Ya Allah, maafkan aku bila pikiran ini sudah masuk ke dalam ranah selingkuh. Padahal di hadapanku ada bidadari teramat cantik.
d)     Aku tidak sanggup melihat wajah kecewa ibu saat keluar kalimat penolakan dari mulutku. Aku tidak sanggup menjadi durhaka. Maafkan aku ya Rabb.
3.      Ketegangan dan kebingungan jiwa yang dialami tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      “Tapi bagaimana dengan Via, bu?”
b)      Harus bagaimana aku nanti bila surat Via datang menjengukku. Terakhir kali aku berkirim kabar bahwa ibu ingin menjodohkanku dengan perempuan pilihannya.
c)      Gembira jiwa ini melihat ibu sumringah. Tapi hati ini masih diayun-ayun bimbang.
d)     Wajahku bingung.
e)      Surat itu, aku mengenalnya. Dan itu fotoku yang kuselipkan di surat terakhir yang kukirim ke Via.
4.      Kekecewaan yang dialami tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Ah, ibu, seandainya engkau tahu betapa dalam perasaanku kepada Via.
5.      Keteguhan hati tokoh utama kepada Via wanita yang ia cintai, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Meski aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan tangan. Via, sahabat penaku, perempuan yang aku kenal dari sebuah forum penulis di salah satu majalah remaja dulu. Meski aku belum pernah bertemu langsung, penilaianku langsung merujuk ke angka delapan. Aku bisa menggambarkan dirinya hanya dari tulisan-tulisannya. Ia perempuan yang memiliki kelembutan. Wangi suratnya mengisyaratkan wangi rambutnya. Halus sulaman kata-kata yang digunakannya mewakili perangainya. Dan doa yang selalu dikirimkannya menggambarkan keshalehannya.
b)      Aku duduk mematung di pinggir tempat tidur.
c)      Ia mendekatiku. Tersenyum namun wajahku datar. Tipis kulempar senyum agar canggung mencair.
d)     Wajah dan tubuhnya begitu menggoda. Tapi tidak hatiku.
e)      Kepalanya direbahkan ke pundakku. Sedikit kaget, tapi kubiarkan. “Maaf, aku masih kaku,” kataku untuk menyembunyikan keraguan.
f)       Aku terdampar di rumah Fini di Selatan Jakarta. Kulirik sedikit wajahnya yang berhias sedikit polesan. Bibirnya tersapu gincu tipis. Cantik juga. Wajahnya putih bersih, matanya berbinar, pipi tambun berlesung bersanding dengan hidung mungilnya. Kacamata cemantel di depan matanya. Balutan jilbab merah menyempurnakan penampilannya. Tapi hati ini masih bimbang.
6.      Harapan yang muncul membuat konflik batinnya menjadi pasrah akan yang terjadi, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Di antara ribuan orang tersebut, aku mencari sosok Via. Berharap dia datang. Ahh.. aku hanya berkhayal, bagaimana ia tahu aku menikah hari ini, bila aku tak pernah lagi berkirim surat dengannya.
7.      Terkejutnya tokoh utama membuatnya tak berdaya, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Lidahku mematung di dalam mulut. Ia mengetahui bila ada perempuan yang lebih dulu menyambar hatiku.
8.      Rasa bersyukur yang dirasakan oleh tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a)      Kedua mataku basah. Berair. Ini adalah air mata dari mata air surga. Ya Allah, engkau menyiapkan kado terindah yang tidak pernah aku duga. Ternyata Via dan Fini berasal dari satu jiwa. Ia wanita yang kucintai. Ibu ternyata mengerti keinginan anaknya.

Dari cerpen diatas dapat deisimpulkan bahwa konflik-konflik yang terjadi adalah konflik batin. Dimana tokoh utama melawan keinginan hatinya demi permintaan ibunya. Namun dengan ia mengikuti permintaan ibunya, ia dipertemukan dengan jodohnya yang ia impikan. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar