Hasil Analisis Cerpen “Suara Serak di Sebrang
Radio” Karya Zelfeni Wimra
Oleh Rahayu Aliyaniwati
Yarman,
tokoh utama dalam cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” karya Zelfeni Wimra.
Tokoh laki-laki yang hampir berusia empat puluh tahun yang masih bujangan ini
gemar mendengarkan radio, apalagi dengan penyiar yang bersuara serak dengan
acara Kotak Pos ya itulah Ratna. Penyiar yang ia gemari selama ini.
Yarman
sangat menggemari sosok Ratna, bahkan ia merasa Ratna adalah sosok teman,
sahabat bahkan kekasih yang selalu menemani kesendiriannya dengan suara serak
Ratna. Yarman yang selalu mengirimkan surat ke Kotak Pos program siaran radio
Ratna, hingga disuatu saat program itu ditiadakan.
Yarman
awalnya berniat untuk pergi ke Padang untuk menemui Ratna, namun dengan program
siaran radio Ratna ditiadakan, Yarman pun seperti berkhayal hal yang konyol.
Namun dengan tekadnya, Yarman pun pergi ke Padang entah untuk bekerja ataupun
menemui Ratna. Yarman serahkan itu semua pada takdir yang membawanya.
Dari cerpen “Suara Serak di Sebrang Radio” dapat dianalisis dari segi
eksistensi maupun psikologisnya. Dari segi eksistensinya dapat dilihat dari Kekaguman,
keputusasaan, ketegangan, kekecewaan dan keberadaan. Sedangkan dari segi
psikologisnya dapat dilihat dari harapan-harapan, keputusasaan, kesabaran dan
kekecewaan.
1. Kekaguman
Kekaguman yang dimiliki tokoh utama dalam mengagumi
Ratna jelas dapat dilihat dari sikap Yarman yang slalu memuja-muja Ratna
sehingga ia berkeinginan untuk menemui Ratna. Kekagumannya dapat dilihat dari
beberapa kutipan teks dari cerpen tersebut, yaitu sebagai berikut:
1)
Bagi
Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan
menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa
lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia
gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.
Dari kutipan
tersebut, pada kata-kata yang digaris bawahi dapat dianalisis bahwa Yarman
begitu menggemari sosok Ratna dalam program siaran radionya itu. Sehingga
Yarman tidak ingin sedikitpun melewatkan harinya tanpa mendengar suara serak
Ratna.
2) Tubuhnya terasa begitu ringan mendengar
cuap-cuap penyiar acara Kotak Pos membacakan kartu dari sejumlah
pendengar setia penjuru Nusantara.
Dari kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa
Yarman sangat mengagumi Ratna, sehingga dia merasa nyaman ketika mendengar
suara serak Ratna.
3)
Sebelum
sebuah lagu selesai, Yarman akan menghayati aneka bayangan yang melintas di
alam hayalnya.
Dari kekagumannya itu Yarman, seringkali menghayal.
2. Keputusasaan
Keputusasaan Yarman hadir ketika dia mengetahui
program siaran Ratna sudah tidak ada lagi dan ketika ia mengetahui surat-surat
yang ia kirimkan terbuang di gudang barang-barang bekas, dapat dilihat dari
kutipan berikut:
1) Yarman merasakan dirinya sangat bodoh
2)
Keinginan
bertemu Ratna sengaja ia tekan. Ia tahan. Dan, jika dapat, akan ia lupakan
3)
Barangkali,
bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat
Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara
serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi
kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya
sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band kesayangannya.
4)
Yarman
berpikir, jika selamanya begini, hal yang mesti ia persiapkan adalah
mendamaikan gejolak keinginannya berangkat ke Padang.
5)
Dan
pada kartu pos yang terakhir, ia tulisi tentang tekadnya untuk ke Padang. Jika
pun bukan untuk menemui Ratna, ia akan mencoba bekerja.
3. Ketegangan
Ketegangan jiwa yang terjadi dalam cerpen “Suara
Serak di Sebrang Radio” dapat dilihat ketika Yarman mengetahui program siaran
Ratna sudah tidak diadakan lagi. Dapat dilihat dari kutipan berikut ini:
1) Sudah tiga minggu acara Kotak Pos
yang ditunggu-tunggunya tidak disiarkan. Ini minggu keempat. Yarman tak habis
bertanya, kenapa acara Kotak Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang
hilang.
2) Yarman menggigil ketika pemberitahuan tentang
peniadaan acara Kotak Pos diumumkan.
3) Jantungnya mendingin. Ngilu. Jemarinya
menangkap selembar kartu pos. Ia dekatkan ke arah lampu. Antara percaya dan
tidak percaya, ia ambil dan periksa lembar-lembar yang lain. Tidak salah lagi,
kartu-kartu pos itu adalah kartu-kartu yang dulu pernah dikirimnya untuk acara Kotak
Pos yang diasuh Ratna.
4) Napasnya memburu. Tak sabar menunggu
siang tiba. Sebab, ada sakit di jantungnya. Bila matahari sudah terbit esok
hari, ia akan pamit pada Syaiful. Ia akan pulang, kembali ke Kototinggi membawa
kartu-kartu pos itu.
4. Kekecewaan
Kekecewaan yang ditampilkan tokoh utama dalam cerpen
ini dapat dilihat dari kutipan berikut:
1) Yarman tak habis bertanya, kenapa acara Kotak
Pos tidak ada lagi? Jelas saja, ada yang hilang. Tidak ada lagi suara
serak Ratna. Cerita dan kiriman salam dari sahabat-sahabatnya yang jauh seakan
raib dimakan angin yang berkisar di Bukitbarisan.
2) Jika acara Kotak Pos tidak ada lagi,
pertemuan dengan Ratna tidak akan lebih dari kesiur mimpi yang konyol?
3)
Yarman
merasakan ada yang terputus antara dia dan Ratna. Ratna tidak lagi menyebut
namanya. Ratna kini telah sombong.
4)
Sisa
kartu pos yang sudah dibelinya ia tulisi dengan kalimat-kalimat aneh.
5)
Yarman
menekuri dirinya. Ia rasakan betapa waktu memang tajam. Sejak acara Kotak
Pos ditiadakan, ia telah kehilangan tempat berhibur.
5.
Kesabaran
Kesabaran yang tercermin
dari tokoh utama adalah ketika Yarman sudah mengetahui surat yang ia kirim
selama ini dibuang kemudian ia tak berhenti berusaha untuk mengirimnya lagi.
Dapat dilihat dari kutipan berikut:
1)
Barangkali,
bila ada kesempatan, kartu-kartu pos itu akan ia kirim lagi ke radio tempat
Ratna bekerja, sekalipun acara Kotak Pos sudah tidak ada dan suara
serak Ratna hanya terdengar pada acara yang lain. Atau, bila tidak ada lagi
kesempatan, kartu-kartu itu, juga cincin permata giok itu, akan disimpannya
sendiri, mungkin di pondoknya, diikatkan pada radio National dua band
kesayangannya.
6.
Harapan-harapan
Harapan-harapan yang
dimiliki tokoh utama dapat dilihat dari awal ia mengagumi Ratna, ia menggantungkan
harapannya agar ia dapat bertemu dengan Ratna. Dapat dilihat dari kutipan
berikut ini:
1)
Yarman
membayangkan, ia bertemu Ratna di sebuah halte saat hujan deras turun. Ia
berharap Ratna tak membawa payung, sehingga mereka punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.
Dan hujan akan ia seru untuk tidak berhenti. Saat itulah, kepada Ratna akan
diceritakannya perihal hujan yang sudah bertahun menyiksa hatinya.
Dari kutipan tersebut dapat
ditapsirkan bahwa Yarman sangat berharap dapat bertemu dan kenal lebih dekat
dengan Ratna.
2)
Ia
telah memesan batu giok yang diikat dengan sebuah cincin bermotif rencong
wajik. Bila sudah waktunya dan cincin itu sudah selesai, akan dibawanya ke
Padang.
Dari kutipan tersebut dapat dilihat
bahwa kekagumannya terhadap Ratna, membuatnya melakukan apa saja demi Ratna.
Hal tersebut menyiratkan harapan Yarman yang ingin dikenal oleh idolanya itu.
7.
Keberadaan
Eksistensi Yarman dalam
cerpen sudah terlihat dari awal cerpen ini diceritakan. Yarman yang seorang
bujangan yang ingin mendapatkan pasangan raib begitu saja setelah
bertahun-tahun ia menyurati idolanya. Eksistensi Yarman begitu jelas ditampakan
dalam cerpen ini lihat pada kutipan berikut:
“Selain rungut sekawanan kera
mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut
dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar.
Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan
menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa
lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia
gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.”
Dari kutipan tersebut eksistensi
Yarman dicerminkan dalam situasi malam di pondok yang tidak ada orang selain
dia, kecuali sekawanan binatang yang tinggal di hutan dekat pondoknya.
Cerpen “Suara Serak di
Sebrang Radio” karya Zelfeni Wimra mencerminkan laki-laki berusia hampir empat puluh yang
belum beristri dan mengagumkan sosok penyiar radio yang bernama Ratna. Dari
cerpen ini tersirat banyak unsur ekstrinsik dari konflik batin yang terjadi
samapai eksistensi tokoh utama dalam cerpen tersebut. Dari cerpen ini juga
dapat tersirat pesan yang dalam, bahwa mengagumi seseorang sah-sah saja namun
baiknya kita berlaku wajar agar tidak ada kekecewaan jika harapan-harapan tidak
tersampaikan.
Cerpen ke-2
Dari cerpen diatas dapat deisimpulkan bahwa
konflik-konflik yang terjadi adalah konflik batin. Dimana tokoh utama melawan
keinginan hatinya demi permintaan ibunya. Namun dengan ia mengikuti permintaan
ibunya, ia dipertemukan dengan jodohnya yang ia impikan. Karena ridho orang tua
adalah ridho Allah.
Cerpen ke-2
Senandung Hujan
“Menikahlah dengan Fini le’,”
pinta bunda untuk kesekian kalinya.
“Insya Allah, dia perempuan yang
shalehah, dan bisa menjadi istri yang baik kelak untuk kamu!”
Ini sudah permintaan kesekian
ibu untuk menikah dengan gadis pilihannya. Aku hanya menunduk dan tak berani
menatap mata ibu. Tak sanggup aku melihat wajah teduh ibu yang pasti rautnya
bakal berubah setelah aku selalu menolak permintaannya. Baru kali ini aku berat
untuk mengiyakan permintaan beliau.
“Tapi aku sudah punya calon istri sendiri bu,
aku…” tak sanggup aku melanjutkannya. Ibu memelukku.
“Iya, ibu paham, tapi ibu mohon
satu kali ini saja, sebelum ibu menyusul ayahmu. Ibu ingin melihat kamu menikah
dengan perempuan yang hati ibu inginkan,” suara ibu mulai parau.
Kurasakan ada air yang menetes
ke atas pundakku. Malam itu badanku hanya dibalut kaos singlet putih.
“Ibu sudah melihat Fini.
Menyelidikinya, dan menurut penilaian ibu, dia bisa menjagamu, menjaga
anak-anakmu dan juga menjaga ibu. Ia perempuan yang baik le’. Lembut
perangainya, halus budi pekertinya, dan insya Allah dia sederhana lagi
bersahaja,” masih dalam pelukan, suara ibu mulai melemah di telingaku.
“Tapi bagaimana dengan Via, bu?”
“Ibu tahu kamu sudah memilih
Via. Tapi dia itu belum pasti,” kali ini ibu mencoba mempengaruhiku.
“Kamu tak perlu takut. Insya
Allah Fini adalah perempuan dengan wajah cantik. Ibu menjamin itu,” tegasnya.
“Beri aku waktu setidaknya satu
minggu bu. Aku ingin istikharah.”
Aku tidak mampu lagi menjawab.
Ah, ibu, seandainya engkau tahu
betapa dalam perasaanku kepada Via. Meski aku hanya mengenalnya lewat
tulisan-tulisan tangan. Via, sahabat penaku, perempuan yang aku kenal dari
sebuah forum penulis di salah satu majalah remaja dulu. Meski aku belum pernah
bertemu langsung, penilaianku langsung merujuk ke angka delapan. Aku bisa
menggambarkan dirinya hanya dari tulisan-tulisannya. Ia perempuan yang memiliki
kelembutan. Wangi suratnya mengisyaratkan wangi rambutnya. Halus sulaman
kata-kata yang digunakannya mewakili perangainya. Dan doa yang selalu
dikirimkannya menggambarkan keshalehannya.
Harus bagaimana aku nanti bila
surat Via datang menjengukku. Terakhir kali aku berkirim kabar bahwa ibu ingin
menjodohkanku dengan perempuan pilihannya. Itu satu bulan lalu. Kulanggar
perjanjian kami, untuk tidak memberikan nomor HP, alamat jejaring sosial,
ataupun foto. Di surat terakhir itu kecuali nama dan alamat, kuselipkan secarik
foto untuk kali pertama. Dibelakang foto kutuliskan nomor HPku. Aku ingin tahu
reaksinya.
Namun setelahnya, surat-surat
Via alfa menyambangi rumahku. Ia tidak rajin lagi menitipkan rindu seperti
dalam goresan penanya. Entah ia marah atau ingin menjaga hati. Barangkali juga
menjaga jarak.
***
Satu pekan berlalu. Tidak ada
jawaban dari Via. Tidak ada surat. Apalagi telepon dan pesan pendek yang mampir
ke HP lawasku. Aku pun memutuskan mengiyakan permintaan ibu. Meski pun surat
Via datang, sebenarnya sangat berat aku menolak permintaan ibu. Setelah Ayah
menghadap Ilahi ketika aku berusia 10 tahun, hanya aku yang menjadi kebanggaan
ibu. Anak semata wayangnya. Aku tidak sanggup melihat wajah kecewa ibu saat
keluar kalimat penolakan dari mulutku. Aku tidak sanggup menjadi durhaka.
Maafkan aku ya Rabb. Aku akan “samina wa atoqna”. Semoga Engkau meridhai jalan
yang aku pilih. Bukankah ridha Allah itu ridha orangtua?
Ibu gembira. Kesibukan pun
langsung melanda rumah mungil peninggalan almarhum Ayah. Rumah sibuk berhias.
Ibu dibantu keluarga dan tetangga repot mempersiapkan seserahan. Tak menunggu
waktu, ibu menyeretku ke toko emas di pasar dekat rumah.
“Keluarkan uangmu, kita beli
mahar perhiasan emas untuk calon istrimu. Ibu yang memilihkan,” ujarnya penuh
semangat.
Gembira jiwa ini melihat ibu
sumringah. Tapi hati ini masih diayun-ayun bimbang.
Pertemuan kedua keluarga pun
terjadi. Ibu Fini adalah teman ibu sewaktu mengikuti penataran sebagai guru
beberapa tahun silam. Karenanya mereka sangat akrab, kendati usia ibuku 10
tahun lebih tua.
Aku terdampar di rumah Fini di
Selatan Jakarta. Kulirik sedikit wajahnya yang berhias sedikit polesan.
Bibirnya tersapu gincu tipis. Cantik juga. Wajahnya putih bersih, matanya
berbinar, pipi tambun berlesung bersanding dengan hidung mungilnya. Kacamata
cemantel di depan matanya. Balutan jilbab merah menyempurnakan penampilannya.
Tapi hati ini masih bimbang.
Satu pekan setelah acara
khitbah, Akad Nikah dilaksanakan, walimah pun digelar. Aku tidak banyak
mengundang teman-teman kantorku. Tapi tamu yang hadir cukup banyak datang silih
berganti. Kudengar orang tua Fini mengundang seribu relasinya. Di antara ribuan
orang tersebut, aku mencari sosok Via. Berharap dia datang. Ahh.. aku hanya
berkhayal, bagaimana ia tahu aku menikah hari ini, bila aku tak pernah lagi
berkirim surat dengannya.
Malam pun tiba. Setelah lelah
seharian menjadi raja yang dipajang di atas pelaminan. Usai membasuh riasan dan
mengganti pakaian, aku masuk kamar pengantin yang serba putih. Seprai, bantal,
guling dan dinding yang dihiasi kain putih. Aku duduk mematung di pinggir
tempat tidur.
Sementara Fini, istriku, baru
keluar dari kamar mandi. Ia memakai gaun putih panjang pemberianku yang ada
dalam seserahan. Fini jauh lebih cantik bila rambutnya tergerai. Wajah dan
tubuhnya begitu menggoda. Tapi tidak hatiku.
Ia mendekatiku. Tersenyum namun
wajahku datar. Tipis kulempar senyum agar canggung mencair.
Fini semakin mendekatiku. Duduk
merapat di samping kananku. “Mas akhirnya kamu jadi halal untukku,” suaranya
merdu.
Baru kali ini aku mendengar
secara utuh, setelah seharian aku hanya membisu di pelaminan ketika ia mengajak
bicara. Berkhayal Via yang ada di kamar itu. Berdua dengannya.
Kepalanya direbahkan ke
pundakku. Sedikit kaget, tapi kubiarkan. “Maaf, aku masih kaku,” kataku untuk
menyembunyikan keraguan.
“Aku tahu,” ujarnya melemahkan
dan mengangkat kepalanya.
Dahiku berkerut. “Kamu tahu
apa?”
“Apa kamu mencintai perempuan
lain?” pertanyaannya menampar hatiku.
Lidahku mematung di dalam mulut.
Ia mengetahui bila ada perempuan yang lebih dulu menyambar hatiku. Jelas saja,
sikap dinginku adalah refleksi dari pertanyaannya. Aku diam.
“Diammu itu adalah jawaban mas.”
Ya Allah, maafkan aku bila
pikiran ini sudah masuk ke dalam ranah selingkuh. Padahal di hadapanku ada
bidadari teramat cantik.
“Mas, kamu pasti sedang memikirkan
Via?” wajahku bingung.
Kuputar posisi duduk ke
hadapannya.
“Dari mana kamu tahu tentang
Via?” masih dalam heran.
Dia beranjak dan mengambil
sebuah kotak kayu kira-kira berukuran 150x250mm dari dalam lemari pakaian.
Kulihat di dalamnya ada puluhan, bahkan ratusan surat terdokumentasi rapi di
dalam kotak warna coklat. Ia mengambil selembar foto dan selembar surat yang
letaknya paling atas.
Surat itu, aku mengenalnya. Dan
itu fotoku yang kuselipkan di surat terakhir yang kukirim ke Via. Ia tersenyum
ketika kurebut surat itu.
“Aku Via mas. Nama Via adalah
nama panggilan aku di rumah. Fini adalah nama singkatan dari namaku, Fitria
Handayani. Aku meminta ibu memberitahukan nama itu. Maaf bila aku
menyembunyikan nama asliku.”
“Awalnya aku juga menolak dijodohkan,
tapi ketika ibu memperlihatkan foto kamu, hatiku riang. Aku menggali informasi
dari ibu untuk memastikan bahwa kamu dan foto yang ibu bawa adalah orang yang
sama. Aku sudah tahu bahwa kamu adalah lelaki yang dijodohkan ibu dan mamah.
Karena itu aku tidak menjawab surat terakhir kamu. Aku ingin membuat kejutan
kepada penjaga hati dan tubuhku,” ujarnya sembari mengulum senyum.
Kedua mataku basah. Berair. Ini
adalah air mata dari mata air surga. Ya Allah, engkau menyiapkan kado terindah
yang tidak pernah aku duga. Ternyata Via dan Fini berasal dari satu jiwa. Ia
wanita yang kucintai. Ibu ternyata mengerti keinginan anaknya.
Hujan pun bersenandung riang
malam itu, mengiringi malam pengantin kami.
***
Diselesaikan di Riau, 19
September 2010; 17:30 WIB ,Rabbi Zidni ‘ilman
Analisis :
Kutipan teks yang menyiratkan
problem tokoh utama:
1. Gejolak
jiwanya membuat tokoh utama rapuh, kepasrahan membuat dia tegar mengikuti apa
yang ibunya pinta. Dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a) Aku
hanya menunduk dan tak berani menatap mata ibu. Tak sanggup aku melihat wajah
teduh ibu yang pasti rautnya bakal berubah setelah aku selalu menolak
permintaannya. Baru kali ini aku berat untuk mengiyakan permintaan beliau.
b) “Tapi
aku sudah punya calon istri sendiri bu, aku…” tak sanggup aku melanjutkannya.
c) “Beri
aku waktu setidaknya satu minggu bu. Aku ingin istikharah.”
d) Aku
pun memutuskan mengiyakan permintaan ibu. Meski pun surat Via datang,
sebenarnya sangat berat aku menolak permintaan ibu.
2. Kepasrahan
jiwa tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a) Aku
tidak mampu lagi menjawab.
b) Aku
akan “samina wa atoqna”. Semoga Engkau meridhai jalan yang aku pilih. Bukankah
ridha Allah itu ridha orangtua?
c) Ya
Allah, maafkan aku bila pikiran ini sudah masuk ke dalam ranah selingkuh.
Padahal di hadapanku ada bidadari teramat cantik.
d) Aku
tidak sanggup melihat wajah kecewa ibu saat keluar kalimat penolakan dari
mulutku. Aku tidak sanggup menjadi durhaka. Maafkan aku ya Rabb.
3. Ketegangan
dan kebingungan jiwa yang dialami tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks
berikut:
a) “Tapi
bagaimana dengan Via, bu?”
b) Harus
bagaimana aku nanti bila surat Via datang menjengukku. Terakhir kali aku
berkirim kabar bahwa ibu ingin menjodohkanku dengan perempuan pilihannya.
c) Gembira
jiwa ini melihat ibu sumringah. Tapi hati ini masih diayun-ayun bimbang.
d) Wajahku
bingung.
e) Surat
itu, aku mengenalnya. Dan itu fotoku yang kuselipkan di surat terakhir yang
kukirim ke Via.
4. Kekecewaan
yang dialami tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a) Ah,
ibu, seandainya engkau tahu betapa dalam perasaanku kepada Via.
5. Keteguhan
hati tokoh utama kepada Via wanita yang ia cintai, dapat dilihat dari kutipan
teks berikut:
a) Meski
aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan tangan. Via, sahabat penaku,
perempuan yang aku kenal dari sebuah forum penulis di salah satu majalah remaja
dulu. Meski aku belum pernah bertemu langsung, penilaianku langsung merujuk ke
angka delapan. Aku bisa menggambarkan dirinya hanya dari tulisan-tulisannya. Ia
perempuan yang memiliki kelembutan. Wangi suratnya mengisyaratkan wangi
rambutnya. Halus sulaman kata-kata yang digunakannya mewakili perangainya. Dan
doa yang selalu dikirimkannya menggambarkan keshalehannya.
b) Aku
duduk mematung di pinggir tempat tidur.
c) Ia
mendekatiku. Tersenyum namun wajahku datar. Tipis kulempar senyum agar canggung
mencair.
d) Wajah
dan tubuhnya begitu menggoda. Tapi tidak hatiku.
e) Kepalanya
direbahkan ke pundakku. Sedikit kaget, tapi kubiarkan. “Maaf, aku masih kaku,”
kataku untuk menyembunyikan keraguan.
f) Aku
terdampar di rumah Fini di Selatan Jakarta. Kulirik sedikit wajahnya yang
berhias sedikit polesan. Bibirnya tersapu gincu tipis. Cantik juga. Wajahnya
putih bersih, matanya berbinar, pipi tambun berlesung bersanding dengan hidung
mungilnya. Kacamata cemantel di depan matanya. Balutan jilbab merah
menyempurnakan penampilannya. Tapi hati ini masih bimbang.
6. Harapan
yang muncul membuat konflik batinnya menjadi pasrah akan yang terjadi, dapat
dilihat dari kutipan teks berikut:
a) Di
antara ribuan orang tersebut, aku mencari sosok Via. Berharap dia datang. Ahh..
aku hanya berkhayal, bagaimana ia tahu aku menikah hari ini, bila aku tak
pernah lagi berkirim surat dengannya.
7. Terkejutnya
tokoh utama membuatnya tak berdaya, dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
a) Lidahku
mematung di dalam mulut. Ia mengetahui bila ada perempuan yang lebih dulu
menyambar hatiku.
8. Rasa
bersyukur yang dirasakan oleh tokoh utama, dapat dilihat dari kutipan teks
berikut:
a) Kedua
mataku basah. Berair. Ini adalah air mata dari mata air surga. Ya Allah, engkau
menyiapkan kado terindah yang tidak pernah aku duga. Ternyata Via dan Fini
berasal dari satu jiwa. Ia wanita yang kucintai. Ibu ternyata mengerti
keinginan anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar