Minggu, 28 Desember 2014

ESSAI PUISI



KETIKA TAUFIK ISMAIL MEMBACA TANDA TANDA
Oleh Rahayu Aliyaniwati

Dalam kehidupan di dunia, manusia hidup dengan perasaan, logika dan imaji. Dengan perasaan manusia dapat merasakan suasana dan keadaan yang dihadapinya, dengan logika manusia dapat berpikir secara luas sehingga dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, dengan imaji manusia dapat mengkhayal, bermimpi dan berkreasi.
Sebagai manusia, dengan perasaannya dapat merasakan apapun yang terjadi di sekeliling kita. Perubahan, yang terasa ketika ada sesuatu yang berbeda membuat gentar disanubari. Peristiwa-peristiwa alam, bencana dan gejolak perubahan fisik dunia menajdikan sebuah ketakutan. Ketakutan menjadikan nya teringat kepada kebesaran-Nya.
Tuhan Sang Pencipta Alam, Allah SWT dengan sejuta kebesarannya mengingatkan manusia akan Maha BesarNya Allah. Manusia yang takut akan Nya, akan terus berdoa memuja Tuhannya dan meminta ampun.
Taufik Ismail, hamba Allah yang merasakan tanda-tanda kebesaran-Nya, mengungkapkan apa yang ia rasa dengan puisinya yang berjudul “Membaca Tanda-tanda”.
Berikut puisi karya Taufik Ismail, yang berjudul “Membaca Tanda-tanda” :

Membaca Tanda-tanda
(Taufik Ismail)
                                                                                    
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya.

Ketika penyair Taufik Ismail menulis puisi “Membaca Tanda-tanda”, bisa dihubungkan dengan keadaan penyair tersebut melalui kata-katanya. Kata-kata yang menunjukkan keadaan penyair bisa ditelaah melalui metode puisi secara intrinsik, yakni berdasarkan diksi, imaji, kata nyata, majas, dan  rima.
Diksi digunakan oleh penyair untuk mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya. Taufik Ismail dalam puisinya “Membaca Tanda-tanda” banyak menyindir manusia sebagai khalifah di bumi yang masih saja merusak alam dengan perburuan hewan, penebangan hutan, dan lain sebagainya yang menyebabkan alam mulai kehilangan keindahannya.  Taufik mengunakan diksi “kehilangan” pada bait keempat untuk menggambarkan hilangnya keindahan alam. Taufik pun banyak menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan alam seperti udara, danau, burung, hutan, gunung dan lain sebagainya untuk menyesuaikan puisinya dengan tema alam.  Selain itu ia memilih kata-kata seperti longsor, banjir, gempa dan sebagainya untuk menggambarkan bencana. Bukan hanya itu pemilihan diksi dalam penggunaan diksi “Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru” pemilihan diksi tersebut tepat untuk perumpamaan asap rokok yang dihirup dapat mengurangi kinerja paru-paru.
Dari pemilihan diksinya, Taufik Ismail dalam puisi ini pada umumnya memakai kata-kata yang lumrah digunakan dan mudah dipahami maknanya. Kesemuanya membuat puisi ini menjadi menarik sehingga pesannya juga lebih cepat diterima oleh pembaca.
Unsur imaji yang terkandung dalam puisi “Membaca Tanda-tanda”  terlihat dalam pemilihan diksi yang dicitrakan. Seperti pada kutipan “Kita saksikan udara abu-abu warnanya, Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya” pada bait ke tiga, pada bait kelima dengan kutipan kata “Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru”, “kita sksikan Gunung membawa abu....” pada bait keenam, dan pada bait ketujuh yaitu dengan kutipan kata “kita telah saksikan seribu tanda-tanda, bisakah kita membaca tanda-tanda”  mencitrakan imaji yang timbul oleh indera penglihatan. Selain imaji yang timbul oleh indera penglihatan, dalam puisi ini juga terdapat unsur imaji yang timbul oleh indera pendengaran dan peraba. Seperti pada bait ketiga dengan kutipan “Burung-burung kecil tak lagi berlicau pagi hari” itu merupakan unsur imaji yang dicitrakan oleh indera pendengaran. Sedangkan unsur imaji yang timbul karena pencitraan yang timbul oleh indera peraba dapat dilihat pada bait kesatu dan kesepuluh pada kutipan “Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita” dan pada kutipan “Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan, akan meluncur lewat sela-sela jari ”
Kata nyata yang digunakan semakin memperjelas makna yang terkandung. Dalam puisi “Membaca Tanda-tanda” Taufik Ismail berusaha mencurahkan perasaannya yang merindukan lingkungan yang alami dan murni.  Ia sangat menyesalkan apa yang terjadi saat ini.  Sudah banyak gejala alam yang memperingatkan manusia untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Taufik Ismail selaku penciptanya mengajak pembaca untuk dapat membaca gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita dan mulai untuk sadar dan berubah untuk menjaga alam.
Selain kata nyata, unsur lain yang tak kurang pentingnya adalah majas. Perumpamaan atau perbandingan dilakukan oleh Taufik Ismail untuk memperkuat makna puisinya. Dalam puisi “Membaca Tanda-tanda”  tidak banyak memakai ragam bahasa kiasan atau majas. Bahasa kiasan yang digunakan hanya dengan majas personifikasi dan hiperbola. Majas personifikasi yang terkandung dalam puisi “Membaca Tanda-tanda” diantaranya seperti pada kutipan “Kita saksikan zat asam didesak karbon dioksid itu menggilas paru-paru” pada bait kelima, dan pada bait keenam baris kedua dan ketujuh dalam kutipan “Gunung membawa abu, Abu membawa batu, Batu membawa lindu, Lindu membawa longsor, Longsor membawa air, Air membawa banjir ”.  Sedangkan yang mengandung majas hiperbola diantaranya ialah pada kutipan “Banjir air mata”  pada bait keenam baris kedelapan.
Dalam puisi tanpa adanya rima, dapat diibaratkan seperti sayur tanpa garam. Meski unsur rima bukanlah unsur utama dalam metode puisi namun unsur rima tak kalah pentingnya dalam penyedap suatu puisi yang indah. Rima adalah bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Penyair memilih diksi-diksi yang mempunyai persamaan bunyi. Pola rima pada puisi ini tidak teratur.  Misalnya saja pada bait pertama dan kedua bersajak (a-b), bait ketiga (a-a-b), bait keempat (a-b-b-b) dan seterusnya. Pada puisi Membaca Tanda-tanda, hanya terdapat rima luar, yaitu rima yang terdapat antarbaris yang terletak di awal, tengah dan akhir.
Rima yang terletak di awal, diantaranya pada bait kedelapan baris kedua sampai kelima:
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu 

Rima yang terletak di tengah, diantaranya pada bait keempat:
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan

Rima yang terletak di akhir, diantaranya terdapat pada bait keempat baris kedua sampai keempat:
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan 


Dengan menguraikan puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail dengan metode puisi secara intrinsik menjadikan makna dalam puisi itu lebih mudah untuk diapresiasi. Puisi “Membaca Tanda-tanda”  dapat menjadikan cerminan manusia untuk lebih menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Agung dan diharapkan dengan kita tahu ketika Taufik Ismail
“Membaca Tanda-tanda” kebesaran Tuhan, kitapun akan tahu sudah seberapa jauh kita menyadarinya. Mari kita renungkan apa yang harus kita renungkan sebagai hamba.



2 komentar:

  1. Maksudnya 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨🤨

    BalasHapus